PAKAN ALAMI SPIRULINA
Pakan alami sangat dibutuhkan oleh benih ikan untuk melangsungkan
hidupnya. Fungsi utama pakan adalah untuk kelangsungan hidup dan
pertumbuhan. Pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk
kelangsungan/mempertahankan hidupnya dan kelebihannya akan dimanfaatkan
untuk pertumbuhan. Selama ini jenis pakan yang banyak digunakan adalah
pakan buatan. Sebagai pakan benih ikan, jenis pakan buatan mempunyai
banyak kekurangan dibandingkan pakan alami. Komponen penyusun pakan
alami lebih lengkap sehingga ikan cenderung lebih menyukai pakan alami.
Selain itu tidak membahayakan pemangsa.
Kebutuhan pakan alami ini semakin sulit terpenuhi, karena pembudidaya
ikan belum memahami teknik kultur pakan alami. Oleh karena itu baru
beberapa pengusaha yang menanamkan modalnya secara khusus dalam produksi
pakan ikan alami. Berbeda dengan pakan buatan yang lebih praktis dan
mudah pengerjaannya sehingga banyak pembudidaya ikan menggunakannya
meskipun sebenarnya kurang baik atau sering membahayakan untuk
pembenihan larva udang maupun ikan. Kelemahan pakan buatan adalah kurang
menarik pemangsa karena lama-lama tidak mengambang/melayang di air.
Disamping itu apabila tidak habis dapat membahayakan ikan dan udang
peliharaan, serta perairan menjadi tercemar.
Kultur pakan alami Spirulina dapat dilakukan oleh para pembudidaya
dengan mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas. Pengembangan pakan
alami mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya karena mikroalga mudah
dikultur, ukuran sesuai mulut larva/ikan pemangsa, pergerakan mampu
memberikan rangsangan bagi pemangsa untuk memakannya, mampu berkembang
biak dengan cepat dalam waktu relatif singkat sehingga ketersediaannya
dapat terjamin sepanjang waktu.
A. Kandungan Spirulina
Spirulina merupakan mikroalga yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan
alami benih ikan. Alga ini mempunyai kandungan gizi yang tinggi, yaitu
protein yang bisa mencapai 70 % dari berat keringnya sehingga dapat
menjadi alternatif bagi makanan kesehatan.
Dalam dunia perikanan, mikroalga ini telah banyak dijual dalam bentuk
tepung dan produk-produk makanan olahan. Tepung seperti ini sudah
diproduksi secara komersial di California, Israel, Jepang, Taiwan, dan
juga Mexico.
Ciri-ciri Spirulina
- Mikroalga hijau kebiruan
- Sel berkoloni dan membentuk filamen terpilin yang menyerupai spiral/helig
- Mengandung berbagai zat gizi seperti Protein dapat mencapai 72 %, Lipid 8%, Karbohidrat 16%, Vitamin B1, B2, B6, B12, C, niasin, β karotin, Kandungan asam amino yang cukup seimbang, mengandung salah satu asam lemak esensial yaitu asam γ-linoleat (GLA), yang merupakan asam lemak majemuk.
Spirulina adalah alga hijau biru yang berbentuk spiral yang memiliki
panjang sel adalah 300-500 mikron atau sekitar ½ milimeter sehingga
tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Spirulina dapat hidup di kolam
yang hangat dan sedikit mengandung garam. Dia tumbuh sangat cepat dan
merupakan salah satu penghasil oksigen di planet ini. Tumbuhan satu sel
yang sangat sederhana ini adalah satu komponen utama dari rantai makanan
dan kehidupan di planet ini. Sebagai makanan sehat yang seimbang,
spirulina berfungsi untuk mencegah penyakit dan mempercepat penyembuhan.
Spirulina bersifat sangat alkali sehingga dapat membantu memperbaiki
keseimbangan pH basa pada sel tubuh.
Dalam sebuah referensi dinyatakan bahwa ganggang spirulina memiliki
kandungan nutrisi dengan komposisi sebagai berikut :
- 60 – 70% Protein
- 20 – 25% Karbohidrat
- 3 – 5% Lemak
- 5 – 8% Mineral dan Vitamin
- 2 – 5% Air
Pigmen
Spirulina menyediakan semua asam amino yang diperlukan tubuh dan dalam
bentuk tersebut 5 kali lebih mudah untuk dicerna dibanding dengan
protein kedelai. Spirulina mengandung 8 asam amino essensial dan 10 asam
amino non essensial.
Spirulina mengandung lipopolisakarida sebesar 1,5% bobot keringnya,
kandungan lipopolisakarida inilah yang menjadikan Spirulina digunakan
sebagai immunostimulan yang potensial dalam meningkatkan respon
kekebalan tubuh pada ikan. Dinding Spirulina kaya akan muco-protein
meningkatkan lapisan mukus pada kulit ikan yang menyebabkan sirip ikan
lebih sehat, meningkatkan resistensi/peradangan kulit terhadap serangan
penyakit.
B. Spirulina Untuk Ikan Hias
Manfaat lain dari mikroalga Spirulina adalah sebagai pakan
zooplankton/larva udang atau ikan dan hewan-hewan kecil lainnya. Di
Jepang Spirulina
diberikan pada ikan mas koki dan ikan hias lainnya untuk meningkatkan
kualitas warna ikan hias tersebut. Hingga saat ini di Indonesia belum
terdapat pembudidayaan spirulina skala massal yang dilakukan oleh
pembudidaya ikan untuk kepentingan pakan alami. Menurut Prof Nyoman
Kabinwa, Periset Spirulina, perairan Indonesia meliputi perairan tawar,
payau, dan laut berpotensial untuk pengembangan ganggang hijau biru.
Manfaat penambahan Spirulina pada makanan ikan adalah mencerahkan warna
ikan, menaikan pertumbuhan rata-rata. Sementara bagi ikan konsumsi
sprirulina berpengaruh pada bau dari ikan tersebut, Ikan memberikan
respon kepada rasa spirulina dan membuat ikan lebih berdaging. Ikan akan
tumbuh lebih cepat, rasanya lebih enak, dan mencegah penyakit.
Pada spesies ikan tropis, spirulina merupakan bagian yang penting dalam
kandungan makanan.
Lima manfaat spirulina untuk kesehatan ikan adalah
sebagai berikut :
- Spirulina mengandung vitamin dan mineral.
- Spirulina kaya akan muco protein baik untuk kesehatan kulit.
- Kandungan phycocyanin yang dapat mengurangi obesitas dan membuat ikan menjadi lebih sehat.
- Kandungan asam lemak yang berguna untuk pertumbuhan organ.
- Spirulina mengandung zat pewarna natural seperti carotenoids.
Dengan memberi spirulina, ikan tropis akan menjadi lebih indah, sehat,
dan dapat hidup lebih lama.
Pada ikan koi, yang kaya akan warna, seringkali dijumpai makanan koi
dengan label “Spirulina Added”. Spirulina menjadi sesuatu yang tidak
asing lagi bagi penggemar koi. Spirulina merupakan ganggang biru-hijau
yang memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi kecemerlangan pada
ikan. Spirulina merupakan ganggang biru-hijau yang memiliki kandungan gizi
yang bermanfaat bagi kecemerlangan pada Ikan Koi, karena itu lazim
dipakai sebagai tambahan makanan Ikan Koi. Sampai sekarang Spirulina
menjadi suplemen utama dalam makanan penambah warna pada Ikan Koi.
Kecemerlangan dan ketebalan warna Ikan Koi dipengaruhi oleh jumlah
sel-sel pigmen warna yang berada dibawah kulit Ikan Koi. Jumlah sel-sel
ini akan berubah sesuai dengan kondisi lingkungan dan makanan yang
dikonsumsi. Konsumsi makanan yang mengandung zat-zat warna ini akan
membantu mencemerlangkan dan mencerahkan warna Ikan Koi. Selain makanan
faktor lingkungan seperti air kolam koi juga ikut mempengaruhi
kecemerlangan dan kecerahan warna koi.
Semestinya hal ini juga berlaku pada jenis ikan hias lainnya,
misalnya pada cupang hias.
C. Kultur Spirulina
Mikroalga bersel silindris dengan dinding selnya yang tipis ini memiliki
potensi pengembangan yang lebih besar dibandingkan dengan tumbuhan
tingkat tinggi. Mikroalga Spirulina dapat mudah dikembangkan dengan
lebih cepat dan praktis. Pengembangan dilakukan menurut dimensi volume,
berbeda dengan tumbuhan tingkat tinggi yang saat ini masih dikembangkan
dalam dimensi luas. Pemanfaatan luas lahan yang sama, dapat memberikan
efisiensi yang lebih besar bagi pembudidayaan mikroalga. Selain itu
dengan daur hidupnya yang pendek mikroalga Spirulina mampu berkembang
biak dalam waktu yang singkat, dapat dipanen sekitar 3-7 hari setelah
inokulasi. Sedangkan tumbuhan tingkat tinggi, misalnya padi paling cepat
membutuhkan waktu sekitar 100 hari untuk dapat dipanen.
Kultur Spirulina dibagi menjadi tiga tahap, yaitu isolasi atau pembuatan
stok murni diruang alga. Sedangkan perbanyakan kultur Spirulina skala
laboratriun dilakukan di Laboratorium Biologi. Dan kultur skala semi
massal dan massal dilakukan oleh para pembudidaya.
Kultur dilakukan secara bertahap :
- Dimulai dari kultur skala laboratorium volume 500-1000 ml dengan pemberian bibit Spirulina sebanyak 1/3 dari air media.
-
Setelah bibit (inokulan) dimasukkan ke dalam botol kultur yang berisi air media, diberi aerasi (udara) agar Spirulina dapat berkembang dengan cepat. Suhu ruangan diusahakan stabil sekitar 23oC - 24oC
- Sebagai sumber cahaya untuk berlangsungnya fotosintesis digunakan lampu TL-40 watt dengan intenitas cahaya 3.000-4.500 lux.
- Penggantian media air dilakukan 4-5 hari sekali. Yaitu dimana Spirulina sedang dalam masa pertumbuhan, ditandai secara visual dengan warna air yang sesuai dengan pigmentasi sel Spirulina yang dikultur.
- Kultur skala laboratorium dilakukan secara bertahap hingga volume 2-5 Liter. Tahapan ini juga bisa dimulai dari kultur skala semi massal mulai dari volume 20 liter hingga 100 liter.
- Wadah I terbuat dari ember berukuran 25 liter dan wadah II terbuat dari bak plastik berukuran 120 liter.
- Air yang digunakan untuk kultur harus disterilisasi dulu dengan cara air yang akan digunakan disaring sebelumnya dengan screen, lalu ditambahkan chlorin 60 mg/L selama minimal 1 jam dan dinetralisir dengan larutan Na-Thiosulfat 20 mg/L untuk menghilangkan sisa-sisa chlorin dalam air hingga bau chlorin hilang.
- Air steril dimasukan pada wadah I, kemudian di masukan inokulum sekitar 1 / 20 bagian dari total volume atau untuk 20 liter air datambahkan sekitar 4 liter Spirulina.
- Inokulum dipupuk menggunakan media CFTR (2) yakni berasal dari komposisi NPK (17:17:17 atau 15:15:15) 1.000 mg, TSP 100 mg, MgSO4 50 mg, dan NaHCO3 4000 mg.
- Pencahayaan hanya mengandalkan cahaya matahari pada siang hari. Pada keadaan tertentu dimana cahaya matahari kurang memadai, dapat menggunakan lampu TL atau lampu sorot.
- Aerasi dijaga jangan sampai mati, karena hal itu akan menghambat pertumbuhan Spirulina dan dapat menyebabkan kematian.
oleh Mahmud Efendi, A.Md (Penyuluh Perikanan Parakan)
dipublikasikan ulang oleh :
Laila Nurmala Dewi
Laila Nurmala Dewi
14/365146/PN/13702
Teknologi Hasil Perikanan

